Modernis.co, Jakarta – Suku Betawi adalah salah satu suku di Indonesia yang penduduknya bertempat tinggal di wilayah DKI Jakarta. DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara menjadi tumpuan pendatang dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Sejak dahulu, mereka kerap kali bertanya bagaimana kepribadian dari sesosok perempuan Betawi. Namun, pandangan terhadap perempuan betawi tidak mendapat respon positif.
Sering kali perempuan Betawi muncul kepermukaan sebagai perempuan yang bodoh. Sosok perempuan yang berpendidikan tinggi dan wanita karier sangat jarang terjadi dan tidak lekat oleh perempuan dari Suku Betawi. Padahal, pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting untuk kelangsungan hidup seorang perempuan.
Tolak ukur perempuan Betawi sukses yakni apabila ia memiliki warisan atau memiliki tanah yang banyak, agar nantinya dapat dimanfaatkan untuk mencari keuntungan tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga. Melihat Perempuan betawi tempo dulu, Perempuan Betawi memang tidak diharapkan untuk memiliki karir diluar rumah. Kuatnya pendidikan agama membuat perempuan Betawi harus menjadi istri yang baik bagi seorang suami.
Prestasi seorang perempuan Betawi yakni membina rumah tangga dan menjadi ibu yang baik. Hal ini bukan bemaksud mengatakan tidak adanya perempuan Betawi yang memiliki karier dan tidak memiliki pendidikan tinggi saat itu. Namun kebanyakan perempuan Betawi dapat diukur seperti itu. Minimnya pendidikan tinggi pagi perempuan Betawi membuatnya mudah dibodohi oleh pendatang.
Sejatinya, tingkat pendidikan yang berkualitas akan mampu menjadikan hidup lebih baik khususnya bagi kaum perempuan. Pendidikan harus mampu memberikan ruang bagi perempuan Betawi untuk meraih pendidikan tingkat tinggi sehingga dapat mendapatkan pekerjaan yang layak tidak hanya mengandalkan tanah dan kontrakan saja sambil menguncang-uncang kaki di rumah.
Fenomena bahwa perempuan betawi masih banyak yang berpendidikan rendah menjadi angin yang tidak segar bagi perempuan yang terlahir dari Suku Betawi tersendiri. Anggapan bahwa perempuan hanya berfungsi di dapur, sumur , dan kasur harus segera diubah agar tidak lagi adanya ketimpangan sosial yang terjadi di kalangan laki-laki dan perempuan.
Pola pikir masyarakat Betawi tentang pendidikan mulai berubah pada saat ini, khususnya pada pendidikan anak perempuan. Banyak yang mempengaruhi hal tersebut berubah, mulai dari habisnya tanah-tanah yang dimiliki suku betawi yang dijual kepada para pendatang sampai perempuan betawi yang tidak memiliki jati diri lagi dan banyak bekerja sebagai buruh paruh waktu di rumah-rumah pendatang yang ada di sekitar mereka.

pekerjaannya antara lain seperti mencuci pakaian, menyetrika, dan tak jarang sebagai pengasuh anak. Kejadian ini menjadikan masyarakat Betawi sadar akan rendahnya pendidikan yang mereka tempuh sehingga menjadikan mereka yang semula menjadi tuan tanah sekarang diberlakukan sebagai bawahan bagi kaum pendatang.
Ternyata hal ini membawa dampak positif, masyarakat Betawi mulai menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi agar tidak mengulangi kesalahan orang tuanya sebagai Betawi tempo dulu. Dengan memperoleh pendidikan yang tinggi bagi perempuan, tentunya akan mengubah pola pikir dan bertambahnya wawasan perempuan tersebut. Sehingga dari hal tersebut menjadikan perempuan Betawi tidak lagi dapat dibodohi.
Adanya perkembangan zaman yang berputar terus menerus membuat tuntutan bagi keluarga Betawi sendiri. Ditambah lagi adanya faktor lain yang mendorong orang tua menyekolahkan perempuan Betawi agar membuat anak-anak perempuan mereka kelak mendapatkan kesempatan pekerjaan yang lebih baik.
Namun tidak dipungkiri juga agar anak perempuan mereka dapat membeli tanah sebanyak-banyaknya yang nantinya sebidang dari tanah tersebut akan dibuat tak jauh-jauh dari kost-kostan atau bahkan kontrakan. Status pendidikan yang tinggi bagi anak perempuan mereka dapat menunjukan status yang lebih baik sehingga dapat mengangkat status keluarga mereka menjadi keluarga yang berpendidikan.
Hingga saat ini, banyak dari perempuan betawi yang masih mengaminkan hal tersebut, namun bukan berarti tidak ada perempuan Betawi yang memiliki cita-cita tinggi seperti mengharumkan nama betawi dengan menjadi orang yang berpengaruh di negara mereka.
Banyak pula di era ini , khususnya perempuan Betawi yang mempunyai keinginan atau kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi, sehingga nantinya diharapkan dapat membawa perubahan pandangan masyarakat luar seputar perempuan Betawi itu sendiri.
Oleh : Eva Zahara Atmanagara (Perempuan Betawi)


Kirim Tulisan Lewat Sini